PEMBELAJARAN


 Model Pembelajaran Explicit Instruction


Pengertian Model Explicit Instruction
Explicit Intruction (pengajaran langsung) merupakan suatu pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedur dan pengetahuan  deklaratif  yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah (Suyatno, 2009:127).
Selain itu, Rosenhina, dkk (dikutip  Yasa, 2012) mengemukakan bahwa  Explicit Intruction merupakan suatu model pembelajaran secara langsung agar siswa dapat memahami serta benar-benar mengetahui pengetahuan secara menyeluruh dan aktif dalam suatu pembelajaran.
Arend dalam Trianto (2010:41) menjelaskan bahwa model Explicit Intruction disebut juga dengan direct instruction merupakan salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan procedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah.
Kemudian Anurrahman (2009:169) mengemukakan bahwa Explicit Intruction atau yang dikenal sebagai pengajaran langsung merupakan suatu model dimana kegiatan terfokus pada aktivitas-aktivitas akademik sehingga di dalam implementasi kegiatan pembelajaran guru melakukan kontrol yang ketat terhadap kemajuan siswa, pendayagunaan waktu serta iklim kelas yang dikontrol secara ketat pula.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model Explicit Intruction merupakan suatu  pendekatan atau model pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedur dan pengetahuan  deklaratif sehingga agar siswa dapat memahami serta benar-benar mengetahui pengetahuan secara menyeluruh dan aktif dalam suatu pembelajaran dengan pola selangkah demi selangkah

Tujuan dan Ciri Model Explicit Instruction

Kardi, dkk dikutip Uno, dkk (2012:117) ada beberapa ciri-ciri model Explicit Intruction  (pengajaran langsung), yaitu sebagai berikut.
a)      Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar.
b)      Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran dan
c)      Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil.
Selain itu, Weil dan Calhoun (dikutip Anurrahman, 2009:169), mengemukakan bahwa tujuan utama dari penggunaan model tersebut, yaitu untuk memaksimalkan penggunaan waktu belajar siswa, sedangkan dampak pengajarannya adalah tercapainya ketuntasan muatan akademik dan keterampilan, meningkatnya motivasi belajar siswa serta meningkatkan kemampuan siswa. (Weil dan Calhoun, dalam Anurrahman, 2009:169).


Langkah-Langkah Model Explicit Instruction
            Pada  pelaksanaan model Explicit Intruction (EI) dapat berbentuk ceramah, demontrasi, pelatihan atau praktik, dan kerja kelompok.  Hal ini digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa (Kardi dikutip Uno, dkk, 2012:118). Tekait hal tersebut, maka dalam penerapannya penyusunan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran harus seefisien mungkin, sehingga guru dapat merancang dengan tepat, waktu yang digunakan. Dari uraian tersebut, maka seorang guru harus memahami langkah-langkah atau sintaks dari model tersebut. 
Suprijono (2010:130) menyatakan bahwa ada beberapa tahapan atau langkah dalam pengajaran langsung (Explicit Intruction),  meliputi: (1) menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa, (2) mendemontrasikan pengeatahuan dan keterampilan, (3) membimbing pelatihan, (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, dan (5) memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan.
Selain itu,  Qirana, dkk (2008:2) mengemukakan bahwa ada beberapa langkah-langkah pembelajaran model Explicit Instruction adalah (1) guru menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa; (2) guru mendemonstrasikan materi; (3) guru membimbing murid dalam pelatihan; (4) guru memberikan umpan balik; serta (5) pelatihan mandiri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

TAHAPAN-TAHAPAN MODEL EXPLICIT INTRUCTION

Fase
Peran Guru

Fase I

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.

Fase 2

Mendemontrasikan pengeta-huan serta  keterampilan

Guru mendemontrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.

Fase 3

Membimbing pelatihan

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal.

Fase 4

Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Mengecek apakah siswa teah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik


Fase 5

Memberikan  kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kapada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan fase yang terdapat pada tabel 1, maka peneliti menyimpulkan bahwa pada tersebut terdiri dari fase persiapan, yang terdiri dari fase menyampaikan tujuan dan menyiapkan siswa yang mencakupi (1) guru memberikan tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam pelajaran itu, (2) penyampaian tujuan kepada siswa dapat dilakukan oleh guru melalui rangkuman rencana pembelajaran dengan cara menuliskannya dipapan tulis, (3) kegiatan ini bertujuan menarik perhatian orang (siswa), memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya, relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari.
Kemudian dilanjutkan dengan fase mendemontrasikan pengetahuan serta keterampilan yang mencakupi (1) melakukan presentasi atau demontrasi pengetahuan dan keterampila, (2) pengajaran langsung berperan teguh pada asumsi, bahwa sebagaian besar yang dipelajari (hasil belajar) berasal dari mengamati orang lain, (3) mencapai pemahaman dan penugasan meliputi untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan sebaliknya, guru perlu benar-benar memperhatikan apa yang terjadi pada setiap tahap demontrasi.
Selanjutnya, fase pelatihan dan pemberian umpan balik meliputi 1) membimbing pelatihan mencakupi (1) berlatih meliputi  guru dapat mendemontrasikan sesuatu dengan benar-benar diperlukan latihan yang intensif, dan memperhatikan aspek penting dari keterampilan atau konsep yang didemontrasikan, (2) memberikan latihan terbimbing dalam hal ni ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menerapkan dan melakukan pelatihan, yaitu sebagai berikut. a) menguasai siswa melakukan latihan singkat, b) memberikan pelatihan pada siswa sampai benar-benar mengusai konsep / keterampilan yang dipelajari, (3) hati-hati terhadap latihan yang berkelanjutan, pelatihan yang dilakukan terus-menerus dalam waktu yang lama dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa, (4) memperhatikan tahap-tahap awal pelatihan, yang mungkin saja siswa melakukan keterampilan yang kurang benar atau bahkan salah tanpa disadari. Selanjutnya 2) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik tahap ini disebut juga dengan tahap resitasi, yaitu guru memberikan beberapa pertanyaan secara lisan atau tertulis kepada siswa dan guru memberikan respon terhadap jawaban siswa.
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan yang dilakukan dengan  memberikan kesempatan latihan mandiri  yang di hubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa dalam melakukan hal ini yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memberikan tugas mandiri, yaitu: a) tugas rumah yang diberikan bukan merupakan kelanjutan dari proses pembelajaran, tetapi merupakan kelanjutan pelatihan untuk pembelajaran berikutnya, b) guru seyogyanya menginformasikan kepada orang tua siswa tentang tingkat keterlibatan mereka dalam membimbing siswa dirumah, dan 3) guru perlu memberikan umpan balik tentang hasil tugas yang diberikan kepada siswa dirumah.  



DAFTAR PUSTAKA

Rusman. 2010. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Saminanto, 2010. Ayo Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: Rasail Media Group.

Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Suyatno. 2010. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Tim Penyusun. 2013. Pedoman Penulisan Skripsi.  Palembang : FKIP Universitas. PGRI

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Perenada Media Grup.

Yasa Eka Marta I Wayan. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Explicit Instruction Berbantuan CD Interaktif untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Multimedia dalam Pembelajaran Audio Digital di SMK TI Bali Global Singaraj. Jurnal Karmapati pada www.pti-undiksha.com diakases tanggal 23 Maret 2013.

Wena, Made 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontenporer. Jakarta : Bumi Aksara.



Model Pembelajaran Talking Stick
Model pembelajaran talking stick merupakan salah satu dari model pembelajaran kooperatif, guru memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain dengan cara mengoptimalisasikan partisipasi siswa (Lie, 2002:56). Kemudian menurut Widodo (2009) mengemukakan bahwa talking stick merupakan suatu model pembelajaran yang menggunakan sebuah tongkat sebagai alat penunjuk giliran. Siswa yang mendapat tongkat akan diberi pertanyaan dan harus menjawabnya. Kemudian secara estafet tongkat tersebut berpindah ke tangan siswa lainnya secara bergiliran. Demikian seterusnya sampai seluruh siswa mendapat tongkat dan pertanyaan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran talking stick merupakan salah satu dari model pembelajaran kooperatif yang menggunakan sebuah tongkat sebagai alat penunjuk giliran dengan memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain sehingga  mengoptimalisasikan partisipasi siswa.
Menurut Sugihharto (2009) mengemukakan bahwa model pembelajaran talking stick termasuk dalam pembelajaran kooperatif karena memiliki ciri-ciri yang sesuai
dengan pembelajaran kooperatif yaitu: (1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya, (2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, (3) bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda, serta (4) enghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Suprijono (2009:90) menyatakan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran talking stick mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Dalam melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran tersebut terdapat beberapa langkah sebagai berikut.
 Pembelajaran dengan  model pembelajaran talking stick diawali oleh penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari. Siswa diberikan kesempatan membaca materi tersebut. Berikan waktu yang cukup untuk aktivitas ini. Guru selanjutnya meminta kepada siswa menutup bukunya. Guru mengambil tongkat yang telah disiapkan sebelumnya. Tongkat tersebut diberikan kepada salah satu siswa. Siswa yang menerima tongkat diwajibkan menjawab pertanyaan dari guru demikian seterusnya. Ketika shick bergulir dari siswa ke siswa lainnya, seyogjanya diiringi musik. Langkah terakhir dari model pembelajaran talking stick adalah guru memberikan kesempatan kepada siswa melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajarinya. Guru memberi ulasan terhadap seluruh jawaban yang diberikan siswa, selanjutnya bersama-sama siswa merumuskan kesimpulan.

Selain itu, Suyatno (2009:124), menyatakan bahwa ada beberapa langkah atau sintaks dari langkah model pembelajaran talking stick, yaitu sebagai berikut.
1)      Guru menyiapkan sebuah tongkat.
2)      Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangan / paketnya.
3)      Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya.
4)      Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
5)      Guru memberikan kesimpulan.
6)      Evaluasi.
7)      Penutup.
Kemudian menurut Widodo (2009), menjelaskan bahwa sintaks atau langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran talking stick,  yaitu sebagai berikut.   
a.       Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
b.      Guru menyiapkan sebuah tongkat.
c.       Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi lebih lanjut.
d.      Setelah siswa selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, siswa menutup bukunya dan mepersiapkan diri menjawab pertanyaan guru.
e.       Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, jika siswa sudah dapat menjawabnya maka tongkat diserahkan kepada siswa lain. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
f.       Guru memberikan kesimpulan.
g.      Evaluasi.
h.      Penutup.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sintaks yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah (a) guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD, (b) guru menyiapkan sebuah tongkat, (c) guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi lebih lanjut, (d) setelah siswa selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, siswa menutup bukunya dan mepersiapkan diri menjawab pertanyaan guru, (e) guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru, (f) guru memberikan kesimpulan, (g) evaluasi dan penutup.
Kelebihan dan kekurangan dari penggunaan model pembelajaran  talking stick yang dikemukakan oleh Kiranawati (2007), mengemukakan bahwa kelebihannya melupti (1) menguji kesiapan siswa, (2) melatih membaca dan memahami dengan cepat, dan (3) agar lebih giat belajar (belajar dahulu). Sedangkan untuk kekuranganya ialah membuat siswa senam jantung.














MODEL PEMBELAJARAN
 A.  Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial (Trianto,2007:5). Sedangkan menurut Suprijono (2010:46) menyatakan bahwa model pembelajaran dapat difenisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Selain itu, Anurrahman (2009:146) mengutarakan pendapat bahwa model pembelajaran merupakan suatu perangkat rencana atau pola yang dapat dipergunakan untuk merancang bahan-bahan pelajaran serta membimbing aktivitas pembelajaran di kelas.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan suatu perangkat rencana atau kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam merancang bahan-bahan pembelajaran serta membimbing aktivitas di kelas atau  pembelajaran dalam tutorial guna mencapai tujuan belajar.
Dalam menggunakan atau menerapkan suatu model pembelajaran dalam penyampaian materi terdapat suatu keunggulan dari penggunaan model pembelajaran tersebut bilamana seorang guru mampu mengadapatasikan atau mengkombinasikan beberapa model sehingga menjadi lebih serasi dalam mencapai hasil belajar siswa yang lebih baik (Anurrahaman , 2009:146).                
Dari  penjelasan di atas, maka dalam penggunaan model pembelajaran yang tepat dalam memberikan materi pada siswa mampu merangsang timbulnya rasa senang siswa terhadap pelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi bahkan keaktifan siswa dalam mencapai hasil belajar yang lebih baik lagi.
B. Ciri-Ciri dan Fungsi Model Pembelajaran
Menurut Trianto (2007:6) model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran atau pengajaran mempunyai empat cri khsusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Rasional teoretik logis yang dissusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
b.      Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai).
c.     Tingkah laku mengajar yag diperlukan agar model tersebut dapat  dilaksanakan dengan berhasil, dan
d.      Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.  (Kardi dan Nur, dalam Trianto, 2007:6)
Dari uraian tersebut, maka menurut Suprijono (2010:49) menyebutkan bahwa model pembelajarang berfungsi untuk membantu perserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir dan mengekspresikan ide. Model pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagai para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. 
C.  Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran
Menurut Isjoni dalam Rosmawaty (2010:7) menyatakan bahwa dalam prakteknya semua model pembelajaran bisa dikatakan berhasil jika memenuhi prinsip-prinsip, yaitu sebagai berikut.
a.       Semakin kecil upaya yang dilakukan oleh guru dan semakin besar aktivitas belajar siswa.
b.      Semakin sedikit waktu yang diperlukan guru untuk mengaktifkan siswa belajar.
c.       Sesuai dengan cara belajar siswa yang dilakukan.
d.      Dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru.
e., Tidak ada satupun metode yang paling sesuai untuk segala tujuan, jenis materi, dan proses belajar yang ada .
Berdasarkan prinsip yang dikemukan oleh para ahli terlihat bahwa suatu model pembelajaran seorang guru harus memperhatikan prinsip-prinsip tersebut sehingga model pembelajaran yang akan digunakan bisa dikatakan berhasil digunakan dalam proses belajar mengajar.
D.  Jenis-Jenis Model Pembelajaran
Berikut model pembelajaran yang sering oleh seorang guru dalam suatu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pada siswa, yaitu sebagai berikut.
a. Mind Mapping
       Mind mapping (peta pikiran) adalah suatu cara untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar otak, yang merupakan cara mencatat yang kreatif dan efektif (Suyatno, 2009:99). Selain itu, mind mapping adalah suatu cara memetakan sebuah informasi yang digambarkan ke dalam bentuk cabang-cabang pikiran dengan berbagai imajinasi kreatif (Sulistiyaningsih, 2010). Menurut Indriyani (2010) mind mapping merupakan suatu strategi pembelajaran yang mengembangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan dengan menggambarkan hal-hal yang bersifat umum kemudian baru ke hal-hal yang bersifat khusus dalam sebuah peta.
Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mind mapping merupakan suatu strategi pembelajaran untuk menempatkan atau memetakan sebuah informasi yang bertujuan mengembangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan. 
Menurut Suyatno (2009:99) menjelaskan bahwa manfaat peta pikiran (mind mappin), yaitu a) memberikan pandangan menyeluruh pokok masalah atau area yang luas, b) memungkin kita merencanakan rute atau membuat pilihan-pilihan dan mengetahui ke mana kita akan pergi dan dimana kita berada, c) mengumpulkan sejumlah besar data di suatu tempat, d) mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan kita melihat jalan-jalan terobosan kreatif baru, dan f) merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk dipandang, dibaca, serta direnungkan dan ingat
         Selanjutnya Suyatno (2009:100) menyebutkan manfaat peta pikiran memberikan manfaat bagi anak-anak, antara lain (a) membantu dalam mengingat, (b) mendapatkan ide, (c) menghemat waktu, (d) berkosentrasi, (e) mendapatkan nilai uang lebih bagus, (f) mengatur pikiran dan hobi, (g) media bermain, (h) bersenang-senang dalam menuangkan imajinasi yang tentunya memunculkan kreativitas. Selain itu menurut Buzan dalam Kurniawati (2010) model pembelajaran mind mapping dapat bermanfaat untuk: 1) Merangsang bekerjanya otak kiri dan kanan secara sinergis, 2)  Membebaskan diri dari seluruh jeratan aturan ketika mengawali belajar, 3) Membantu seseorang mengalirkan diri tanpa hambatan, 4) Membuat rencana atau kerangka cerit, 5)    Mengembangkan sebuah ide, 6) Membuat perencanaan sasaran pribadi, 7) Memulai usaha baru, 8) Meringkas isi sebuah buku, 9) Fleksibel, 10) Dapat memusatkan perhatian, 11) Meningkatkan pemahaman dan 12) Menyenangkan dan mudah diingat.
              Manfaat peta pikiran juga dikemukakan dalam http://herdy07.wordpress.com diakses tanggal 13 Febuari 2011 terdapat beberapa manfaat memiliki mind mapping antara lain : (1) merencana; (2) berkomunikasi; (3) menjadi kreatif; (4) menghemat waktu; (5) menyelesaikan masalah; (6)  memusatkan perhatian; (7) menyusun dan menjelaskan fikiran – fikiran; (8) mengingat dengan lebih baik; (9) belajar lebih cepat dan efisien; dan (10) melihat gambar keseluruhan. 
 Menurut Ahmadi (2009:182) menyatakan bahwa mind mapping sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa untuk menentukan alternatif jawaban dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a.       .Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaliknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban.
c.       Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang.
d.      Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi.
e.   Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan tulis dan mengelompokkan sesuatu kebutuhan guru.
f.  Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai dengan konsep yang disediakan oleh guru.

Selain itu, http://wyw1d.wordpress.com diakses tanggal 13 Februari 2011 menjelaskan bahwa model pembelajaran mind mapping sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban. Dipergunakan dalam kerja kelompok secara berpasangan (2 orang) dengan langkah-langkah pembelajarannya.

a)      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b)      Guru menyajikan materi sebagaimana biasa.
c)      Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang.
d)  Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
e) Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
f)        Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang kiranya belum dipahami siswa.
g)      Kesimpulan/penutup.
 Suyatno (2009:94) menyatakan bahwa untuk mengajak anak (siswa) membuat peta pikiran diperlukan beberapa hal, yaitu kertas kosong bergaris, pena atau spidol berwarna, otak dan imajinasi. Tujuh lagkah dalam membuat peta pikiran: (a) mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar, (b) gunakan gambar atau foto untuk ide sentral, karena gambar melambangkan topik utama, (c) gunakan warna, karena bagi otak warna sama menariknya dengan gambar sehingga peta pikiran lebih hidup, (d) hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya, (e) buatlah garis hubung yang melengkung, (f) gunakan satu kata kunci untuk setiap cabang atau garis, dan (g) gunakan gambar, karena setiap gambar bermakna seribu kata. Dalam membuat Mind Mapping juga diperlukan keberanian dan kreativitas yang tinggi. Variasi dengan huruf capital, warna, garis bawah atau simbol-simbol yang menggambarkan poin atau gagasan utama. Menghidupkan mind mapping yang telah dibuat akan lebih mengesankan. Membuat Mind Mapping yang terdapat didalam (http://astutimin.wordpress.com diakses tanggal 13 Februari 2011  ) Tony Buzan telah menyusun sejumlah aturan yang harus diikuti agar mind mapping yang dibuat dapat memberikan manfaat yang optimal. Berikut
(a)   Kertas: polos dengan ukuran minimal A4 dan paling baik adalah ukuran A3 dengan orientasi horizontal (Landscape). Central Topic diletakkan ditengah-tengah kertas dan sedapat mungkin berupa Image dengan minimal 3 warna.
(b)   Garis: lebih tebal untuk bois dan selanjutnya semakin jauh dari pusat garis akan semakin tipis. Garis harus melengkung (tidak boleh garis lurus) dengan panjang yang sama dengan panjang kata atau image yang ada di atasnya. Seluruh garis harus tersambung ke pusat.
(c)    Kata: menggunakan kata kunci saja dan hanya satu kata untuk satu garis. Harus selalu menggunakan huruf cetak supaya lebih jelas dengan besar huruf yang semakin mengecil untuk cabang yang semakin jauh dari pusat.
(d)   Image: gunakan sebanyak mungkin gambar, kode, simbol, grafik, table dan ritme karena lebih menarik serta mudah untuk diingat dan dipahami. Kalau memungkinkan gunakan Image yang 3 dimensi agar lebih menarik lagi.
(e) Warna: gunakan minimal 3 warna dan lebih baik 5 – 6 warna. Warna berbeda untuk setiap bois dan warna cabang harus mengikuti warna bois.
(f)  Struktur: menggunakan struktur radian dengan sentral topic terletak di tengah-tengah kertas dan selanjutnya cabangcabangnya menyebar ke segala arah. bois umumnya terdiri dari 2– 7 buah yang disusun sesuai dengan arah jarum jam dimulai dari arah jam 1.

           Kelebihan dari mind mapping dalam http://mahmmudin.wordpress.com diakses tanggal 13 Februari 2011, sebagai berikut.
a.       Dapat mengemukakan pendapat secara bebas.
b.      Dapat bekerjasama dengan teman lainnya
c.       Catatan lebih padat dan jelas
d.      Lebih mudah mencari catatan jika diperlukan.
e.       Catatan lebih terfokus pada inti materi
f.        Mudah melihat gambaran keseluruhan
g.       Membantu Otak untuk: mengatur, mengingat, membandingkan dan membuat hubungan
h.       Memudahkan penambahan informasi baru
i.         Pengkajian ulang bisa lebih cepat
j.        Setiap peta bersifat unik
Selain mempunyai kelebihan mind mapping juga memiliki kelemahan atau kekurangan, yaitu sebagai berikut.
a)      Hanya siswa yang aktif yang terlibat.
b)      Tidak sepenuhnya murid yang belajar
c)      Mind map siswa bervariasi sehingga guru akan kewalahan memeriksa mind map siswa.


b, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing
“Model snowball throwing merupakan suatu cara untuk melatih siswa agar lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Pertanyaan atau pesan tersebut ditulis dengan menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada siswa lain. Siswa yang mendapat bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya” 

            Menurut Pendidikan dan Latihan Propesi Guru (PLPG, 2008:22) mengemukakan bahwa snowball throwing dapat diartikan suatu gumpalan kertas yang tertulis pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan pada siswa lainnya dengan tujuan untuk terjadi tanya jawab terhadap masing-masing kelompok.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa snowball throwing merupakan  suatu cara untuk melatih siswa agar lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Pertanyaan tersebut dilemparkan dengan menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada siswa lain, dengan kata lain bola tersebut dikenal dengan bola salju sehingga terjadinya tanya jawab antara siswa.
Pendidikan dan Latihan Propesi Guru (PLPG, 2008:22) menyatakan bahwa dalam terlaksananya proses belajar mengajar dengan menggunakan snowball throwing seharusnya guru memperhatikan langkah-langkah yang harus dilakukan. Berikut adalah langkah-langkah pembelajaran snowball throwing tersebut sebagai berikut:
1)         Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
2)      Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi,
3)  Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru ke temannya,
4)         Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menulis satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
5)    Kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa lain selama kurang lebih 5 menit.
6)      Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan pada siswa tersebut untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergiliran.
7)         Peserta didik memberikan kesimpulan.
8)         Evaluasi dan  penutup. 




PEMBELAJARAN TERPADU 

Joni dalam Trianto (2010:56) mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu  merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik individu maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik. Selain itu, Hamalik (2008:133) menjelaskan bahwa  pembelajaran terpadu adalah suatu sistem pembelajaaran yang bertitik tolak dari suatu masalah atau proyek yang dipelajari/dipecahkan oleh siswa baik secara individual maupun secara kelompok dengan metode yang bervariasi dan dengan bimbingan guru guna meengembangkan pribadi siswa secara utuh dan terintegrasi.
Kemudian Hadisubroto dalam  Trianto (2010:56) menyatakan pembelajaran terpadu merupakan suatu pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitan dengan pokok bahasan lain atau konsep tertentu  dikaitkan dengan konsep lain, diberikan secara spontan atau direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dengan beragam pengalaman belajar anak, maka pembelajaran itu bermakna.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran terpadu adalah suatu perencanaan yang mengkaitkan antara konsep yang dikaitkan dengan konsep yang lainnya, pokok bahasan atau sub pokok yang dikaitkan dengan pokok bahasan atau sub pokok yang lainnya sehingga mencapai tujuan tertentu.
Pada dasarnya pembelajaran atau pengajaran terpadu dimaksudkkan sebagai kegiaatan mengajar dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan mengajar dengan cara ini dapat dilakukan dengan mengajarkan beberpa materi pelajaran disajikan tiap pertemuan (Ujang, dkk dalam Trianto, 2010:56).
Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada anak didik. Dikatakan bermakna karena dalam pengajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengamatan lansung dan menghubungkannya dengan konsep yang mereka pahami. 
Berdasarkan uraian di atas, maka diharapkan dengan menggunakan pembelajaran terpadu seorang guru akan mampu mengatasi kendala yang dialaminya terutama pada keaktifan siswa untuk menerima materi yang diberikan sehingga hasil belajar siswa akan meningkat dengan optimal.
Pembelajaran terpadu sebagai proses yang mempunyai beberapa karakteristik, antara lain sebagai berikut:
1) Holistik dan bermakna, merupakan suatu gelaja yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari beberapa kajian sekaligus, tidak dari sudut pandang yang berbeda. Pengkajian suatu gelaja dari beberapa aspek memungkinkan terbentuk semacam jalinan antara konsep-konsep yang saling berhubungan, 2) otentik, pembelajaran terpadu memungkinkan siswa memahami secara langsung prinsip dan konsep yang ingin dipelajarinya melalui kegiatan belajar secara langsung, 3) aktif, pembelajaran terpadu menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran baik secara fisik, mental, intelektual maupun emosional guna tercapai hasil belajar yang optimal (Depdikbud dalam Trianto, 2010:61-63).

Selain itu, Suryasubroto dalam Nurbaiti (2010:10), pembelajaran terpadu memiliki beberapa karakteristik, yaitu: 1) berpusat pada siswa,  2) memberikan pengalaman langsung, 3) pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, 4) menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, 5) bersifat fleksibel, dan 6) hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa,. Berikut akan penulis uraikan tujuh karakteristik pembelajaran terpadu tersebut.
1)      Berpusat pada siswa; proses pembelajaran yang dilakukan harus menempatkan siswa sebagai pusat aktiviitas dan harus mampu memperkaya pengalaman belajar.
2)      Memberikan pengalaman langsung: agar pembelajaran lebih bermakna maka siswa perlu belajar secara langsung dan mengalami sendiri. Atas dasar ini maka giuru perlu menciptakan kondisi yang kondusif dan memfalitasi tumbuhnya pengalaman yang bermakna.
3)      Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas: mengingat tema dikaji dari berbagai mata pelajaran dan saling berkaitan maka batas mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
4)      Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran: pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh.
5)      Bersifat fleksibel: pelaksanaan pembelajaran tematik tidak terjadwal secara ketat antara mata pelajaran.
6)      Hasil pembelajaran berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
            Trianto (2010:58), secara umum prinsip-prinsip pembelajaran terpadu dapat diklasifiksikan menjadi: (1) prinsip penggalian tema, (2) prinsip pengelolaan pembelajaran, (3) prinsip evaluasi, dan (4) prinsip reaksi. Untuk lebih jelasnya berikut akan peneliti uraiakan keempat prinsip dasar pembelajaran terpadu tersebut.
a.      Prinsip Penggalian Tema
Prinsip penggalian tema merupakan prinsip utama dalam proses pembelajaran terpadu. Artinya tema-tema yang saling berkaitan atau tumpang tindih dan ada keterkaitan menjadi target utama pembelajaran. Dengan demikian, dalam penggalian tema tersebut hendaklah memerhatikan beberapa persyaratan, antara lain sebagai berikut.
a)      Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran.
b)      Tema harus bermakna, maksudnya tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswaa untuk belajar selanjutnnya.
c)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan psikologi anak.
d)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi dalam rentang waktu belajar.
e)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan ketersedian sumber belajar.
b.      Prinsip Pengelolaan Pembelajaran
Pengelolaan pembelajaran dapat optimal apabila guru mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan proses pembelajaran tersebut.
c.       Prinsip Evaluasi
       Untuk melaksanakan evaluasi dalam pembelajaran terpadu harus memperhatikan langkah-langkah positif antara lain sebagai berikut.
a)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi lainnya.
b)      Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan dicapai. 
d.      Prinsip Reaksi
Prinsip reaksi merupakan dampak pengiring yang penting bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
Ada beberapa kelebihan yang dapat dipetik melalui pelaksanaan pembelajaran terpadu antara lain sebagai berikut:
a. Dengan menggabungkan berbagai bidang kajian akan terjadi penghematan waktu, karena dari ketiga kajian dapat diajarkan secara sekaligus, b. siswa dapat melihat hubungan yang bermakna antara konsep, c. meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran, d. pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, e. memotivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan, serta f. pembelajaran terpadu dapat membantu menciptakan struktur kognitif yang menjembatani antara pengetahuan awal siswa dengan pengalaman belajar yang terkait, pemahaman menjadi lebih terorganisasi dan mendalam, dan memudahkan memahami hubungan materi. (Trianto, 2007:107).

Di samping kelebihan yang dikemukan di atas terdapat juga kekurangan yang dilihat dari beberapa aspek antara lain sebagai berikut.
a) Aspek Guru. Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang hendal, rasa percaya diri dan berani mengemas dan mengembangkan materi, bila semua ini tak dipenuhi maka proses peebelajaran tidak akan bisa berjalan dengan baik., b) aspek Peserta Didik. Model pembelajaran terpadu menekankan pada kemampuan mengurai, menghubung-hubungkan dan kemampuan menemukan dan menggali. Bila kondisi ini tidak dipenuhi, maka penerapan pembelajaran terpadu juga akan terhambat, c) aspek kurikulum. Kurikulum harus bersifat luwes, dan guru pelu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran siswa, d) aspek Penilaian. Guru dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan juga guru harus berkoordinasi dengan guru lain, bila materi pelajaran berbeda dari guru lain., serta e) suasana pembelajaran. Pada saat mengajarkan sebuah tema, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut dengan pemahaman, selera,  dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri. (Trianto, 2007:108).


3 komentar:

agen bola mengatakan...

wahhh .. di tunggu update tannya gann

Anonim mengatakan...

pertanyaan apakah yng mesti saya jawab

Anonim mengatakan...

Tanggal tahun berapa ya ini di akses??

Poskan Komentar